SK Presiden : No. 107/1964
Lahir : Perlak, Aceh, 1870
Wafat : Pasai, Aceh, 24 Oktober 1910
Makam: Pasai, Aceh
Cut Nyak Meutia adalah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang hingga titik darah penghabisan tetap memegang prinsip tak mau tunduk kepada kolonial.
Sebelum Cut Nyak Meutia lahir, pasukan Belanda sudah menduduki daerah Aceh yang disebut Serambi Mekkah itu. Suasana perang pada saat kelahiran dan perkembangannya itu, dikemudian hari sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya.
Ketika sudah beranjak dewasa, dia menikah dengan Teuku Muhammad, seorang pejuang yang lebih terkenal dengan nama Teuku Cik Tunong. Walupun ketika masih kecil ia sudah ditunangkan dengan seorang pria bernama Teuku Syam Syarif.
Cut Nyam Meutia bersama suaminya Teuku Cik Tunon langsung memimpin perang di daerah Pasai.
Bersama suaminya, dia terus melakukan perlawanan. Namun, malang Teuku Cik Tunong, suaminya. Suatu hari pada bulan Mei tahun 1905, berhasil ditangkap pasukan Belanda. Ia kemudian dijatuhi hukuman tembak.
Berselang beberapa lama setelah kematian suaminya, Cut Nyak Meutia menikah lagi dengan Pang Nangru, pria yang ditunjuk dan dipesan suami pertamanya sebelum menjalani hukuman tembak. Pang Nangru adalah teman akrab dan kepercayaan suami pertamanya.
Di lain pihak, pengepungan pasukan belanda pun semakin hari semakin mengetat. Pasukan Cut Meutia semakin terdesak mundur, masuk lebih jauh ke pedalaman rimba Pasai.
Disamping itu, mereka pun terpaksa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyiasati pencari jejak pasukan Belanda. Namun pada satu pertempuran di Paya Cicem pada bulan September tahun 1910, Pang Nangru juga tewas di tangan pasukan Belanda. Sementara Cut Nyak Meutia sendiri dapat meloloskan diri.
Meutia tetap tidak bersedia menyerah. Di pedalaman rimba Pasai, dia hidup berpindah-pindah bersama anaknya, Raja Sabil, yang masih berumur sebelas tahun untuk menghindari pengejaran pasukan Belanda.
Tapi pengejaran pasukan Belanda yang sangat ketat membuatnya tidak bisa menghindar lagi. Rahasia tempat persembunyiannya terbongkar. Dalam suatu pengepungan yang rapi dan ketat pada tanggal 24 Oktober 1990, dia berhasil ditemukan. Dia pun gugur setelah sebuah peluru mengenai kepala dan dua buah lainnya mengenai dadanya. Cut Nyak Meutia gugur sebagai pembela bangsa. (Sumber : Ensiklopedi Pahlawan Indonesia)
