Home » » BALASAN TERHADAP PENGORBANAN SEORANG IBU

BALASAN TERHADAP PENGORBANAN SEORANG IBU


Assamau’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirahmanirahim,
 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ
Segala puji bagi Allah yang telah berkenan menganugrahi kita selaku  hamba-hamba-Nya dengan berbagai limpahan nikmat yang tidak akan pernah bisa kita hitung jumlah dan ukurannya. Sehingga maka dari itu, jangan sampai kita terlupa atau bahkan sengaja melupakan untuk selalu bersyukur atas apa yang Allah beri, bersyukur atas semua pemberian Allah itu hukumnya wajib.

Tak lupa, semoga sholawat dan salam selalu tercurah dan tersampaikan pada Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW yang berkat perjuangan beliau, keluarganya dan para sahabatnya kita bisa merasakan nikmat manisnya iman dan islam, nikmat keagamaan yang tidak akan mampu untuk ditukar dengan nikmat lain.

Baiklah, pada kesempatan sore ini, saya akan menyampaikan sedikit ceramah atau tausiah tentang kemuliaan seorang Ibu. 

Berbicara mengenai peran seorang ibu, tentu yang paling membekas dalam ingatan kita bagaimana perjuangannya ketika mengandung 9 bulan lamanya, dan hampir meregang nyawa saat melahirkan sang buah hati. Belum lagi, ketika ia harus merawat, mengasuh, dan mendidik dengan ilmu agama dan pengetahuan yang bermanfaat, agar kelak buah hatinya mampu tumbuh menjadi generasi penerus bangsa dengan berbagai prestasi gemilang.

Ibu adalah sosok yang penuh cinta dan kasih sayang, yang menjadikan rumah tangga penuh ketentraman dan ketenangan. Petuah-petuahnya yang bermanfaat, lembut, dan mendamaikan, serta menghapus duka dan lara yang berkecamuk di hati.

Banyak sekali pengorbanaan seorang ibu untuk anak anaknya, ibu mengandung selama 9 bulan, kita di dalam perut disayang di bawa kemana mana, Ibu tak bisa berpuasa ketika hamil, tak bisa puasa ketika menyusui kita. Ibu tak jadi solat Dhuha atau ingin membaca Alquran, karena harus mendiamkan anaknya yang menangis. Ibu tak ikut sholat idul Fitri, Idul Adha karena kita masih kecil masih belum bisa di bawa keluar rumah. 

Semua pengorbanan ibu tersebut tidak dapat kita balas dengan apapun, kecuali dengan menghormatinya, menyayanginya, tidak durhaka. Ibu tak butuh berlian, ibu tak butuh emas, ibu kita cuma butuh kehadiran kita dalam hari-harinya, perhatian kita, menghormatinya, tidak membentak orang tua, itu saja. Tapi terkadang berat untuk di lakukan. 

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Imran ayat 14 yang artinya:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada -Ku lah tempat kembalimu.”

Ada suatu kisah tentang seorang pemuda yang tinggal di Yaman, yang dikenal di seluruh penjuru langit bernama Uwais Al Qarni. Uwais adalah seorang fakir yang mempunyai sakit sopak di sekujur badannya, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Kemudian suatu hari, Ibunya Berkata
“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya berjalan menuju mekkah.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Setelah bertemu dengan Umar Bin Khattab, uwais bertanya “Hai Umar, apakah dengan aku menaikkan haji ibuku, menggendong ibuku mengelilingi ka’bah apakah itu sudah bis membalas jasa dan pengorbanan ibuku?”. Kemudian Umar bin Khattab menjawab “ meskipun kau gendong ibumu dari Yaman ke Mekkah dan kau gendong lagi ibumu mengelilingi Ka’bah dan kau gendong lagi ibumu pulang Ke Yaman dengan nafas yang terengah-engah sekalipun kau belum bisa membalas setetes darah, setetes air susu dan satu kali tarikan nafas ibumu saat ibumu melahirkan. Semua itu tak bisa terbalaskan”

Sungguh, berbakti kepada ibu merupakan ibadah yang sangat agung. Bahkan, kebaikan sebesar apapun rasanya belumlah cukup untuk membalas budi baiknya. Jadi untuk itu, mulai sekarang marilah hormati ibu kita, sayangi ibu kita, jangan sampai kita gores hatinya dengan kata kata yang kasar, yang dapat melukai hatinya karena syurga letaknya berada di bawah kaki ibu. Sungguh durhakalah kita jika kita sampai melukai hatinya. 

Demikianlah ceramah pada hari ini, lebih dan kurang saya mohon maaf, karena tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. 

Akhirukalam
Assalamu’alaikum, warahmatullahi wabarakatuh. 


Penceramah : Krisniyanti
                       Mahasiswa  PPL STAI AN-NADWAH Kuala Tungkal 
Program :       Kuliah Sore
On Air    :      Rabu, 4 Septermber 2019 Pukul : 17.30 WIB

icons8_facebook_48 Comments
icon_logo32 0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon Tinggalkan Komentar Sebelum Pergi


KIN RADIO 90,70 FM